oleh Michael Heart.
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
February 1, 2009
January 29, 2009
Duniaku Buku..
Hidupku sekarang ini dipenuhi dengan buku..
Setiap hari, fikiranku meeesti teringat buku..
Nak baca buku
Nak order buku
Nak beli buku
Nak orang beli buku
Nak promote buku
Buka je mata..nampak buku..
Buku..buku..dan buku...
Buku2 ni ada aura dia sendiri..sebab..
Ada yang jadi ulat buku
Asyik berkepit je ngan buku
Dah dapat buku langsung xbleh berpisah ngan buku, xbleh buat pape dah..
Hanyut dengan dunia buku
Ajaibnya buku..
Kita boleh melancong ke seluruh pelusuk dunia
Kita boleh jadi doktor, engineer, saintis
Semua yang kita nak jadi boleh dengan adanya buku
Buku boleh buat orang miskin jadi kaya
Buku boleh jadikan seseorang yang lemah menjadi hebat
Buku juga boleh jadi teman akrab kita
Buku boleh buat kita gembira, menangis, sedih, ketawa..
Buku juga membina jambatan silaturrahim antara sesama insan
Emmm..macam-macam dgn buku ni... :)
We are what we read..
Setiap hari, fikiranku meeesti teringat buku..
Nak baca buku
Nak order buku
Nak beli buku
Nak orang beli buku
Nak promote buku
Buka je mata..nampak buku..
Buku..buku..dan buku...
Buku2 ni ada aura dia sendiri..sebab..
Ada yang jadi ulat buku
Asyik berkepit je ngan buku
Dah dapat buku langsung xbleh berpisah ngan buku, xbleh buat pape dah..
Hanyut dengan dunia buku
Ajaibnya buku..
Kita boleh melancong ke seluruh pelusuk dunia
Kita boleh jadi doktor, engineer, saintis
Semua yang kita nak jadi boleh dengan adanya buku
Buku boleh buat orang miskin jadi kaya
Buku boleh jadikan seseorang yang lemah menjadi hebat
Buku juga boleh jadi teman akrab kita
Buku boleh buat kita gembira, menangis, sedih, ketawa..
Buku juga membina jambatan silaturrahim antara sesama insan
Emmm..macam-macam dgn buku ni... :)
We are what we read..
Tangisan Anak-anak Palestin...

Mereka menangis kerana ibu ayah mereka di bom
Mereka menangis kerana ahli keluarga mereka ditembak
Mereka menangis kerana kehilangan sahabat handai
Mereka menangis kerana tiada rumah dan tempat berteduh
Mereka menangis kerana sekolah mereka dihancurkan
Mereka menangis kerana tiada makanan dan minuman
Mereka menangis...
Menangis kerana segala-galanya di Palestin...
Air mata dan kesedihan
Kesusahan dan kesengsaraan
Bukan keputus-asaan mereka
Air mata dan kesedihan itu
Adalah semangat dan keberanian
Yang terus menjalar dalam darah daging mereka
Kesusahan dan kesengsaraan itu
Penguat keimanan dan kebergantungan kepada Yang Maha Kuasa



"apabila saya besar saya bertekad akan mengebom mereka sebagaimana mereka mengebom kami.." Shereen Abu Tob (8 Thn)
Shereen Abu Tob yang dalam sekelip mata menjadi yatim piatu dan hidup sebatang kara angkara kekejaman Israel tanpa batasan.
Saya tidak takut dgn serangan Israel. Cukuplah Allah menjadi pelindung saya..Anas Salem (10 Thn)

Inilah kehebatan anak-anak di Palestin. Mereka mempunyai semangat juang tinggi untuk menentang keganasan Israel. Bila pikir-pikirkan..diri ini pun tidak mampu nak menghadapi segala pergelutan sebagaimana di Palestin..Iman tidak sekuat anak-anak Palestin yang meletakkan total kebergantungannya kepada Allah swt. Tak terbayang jika semua itu atau sedikit saje pertempuran berlaku di depan mata. Tentu akan tersungkur dan rebah lemah menghadapinya..
Sesungguhnya Allah lah Yang Maha Mengetahui segalanya..dan Dialah Yang Maha Berkuasa atas segalanya..
Wahai makhluk kecil dalam rahimkuu..
Semoga dikau berkembang menjadi anak yang soleh..menjadi perantara bagi kemaslahatan umat manusia..menegakkan kebenaran..membela kejujuran..menjadi orang yang penuh manfaat bagi orang lain dan menjadi pemakmur negeri..
January 14, 2009
Pendaki

Disadur dari buku :
Kekuatan Cinta “30 Nasihat Bagi Jiwa Perindu Nur Illahi”
Irfan Toni Herlambang
Seorang pendaki gunung sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel dan beragam carabiner (pengait). Tak lupa tali-temali tersusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat. Jadi, persiapannya harus lebih lengkap. Kini, di hadapan pendaki itu menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat. Tertutup salju yang putih. Awan yang berarak di sekitarnya, membuat tak seorang pun tahu apa yang tersembunyi di sana.
Mulailah pendaki itu melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang disandangnya menancap setiap kali ia mengayunkan langkah. Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yang terjal. Tak mungkin baginva untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali-temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam. la harus mendaki dengan tali-temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan, tiba-tiba terdengar gemuruh datang dari atas. Astaga, ada badaii salju datang tanpa diundang! Longsoran salju meluncur deras. Menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas ke arah dinding. Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu.
Semua perlengkapannya hilang. Hanya tersisa sebilah pisau di pinggangnya. Sang pendaki itu tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur. Semua tampak memutih. la tak tahu di mana berada. Sang pendaki cemas. la berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya. Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. “Potong tali itu! Potong tali itu!” Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia ragu untuk mengambil keputusan. Lama. la tak mengambil keputusan apa-apa.
Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu beku. Tampak nya ia meninggal karena kedinginan. Sementara, batas tubuh itu dengan tanah hanya berjarak 1 meter saja!
Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu karena tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan selamat dengan membiarkan dirinya jatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. la tentu tak harus mati kedinginan. Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Allah tampak tak melindungi hamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekali beban, masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai salju yang terus menghantam tubuuh kita. Mengapa tak disediakan saja jalan lurus tanpa perlu menanjak agar kita terbebas dari semua halangan itu?
Namun, Teman, cobaan yang diberikan Allah buat kita adalah latihan. Hanya ujian. Kita adalah layaknya besi-besi yang ditempa. Kita adalah seperti pisau-pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di semua ujian dan latihan itu, tersimpan petunjuk. Ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA PERCAYA. Ya, asal kita percaya. Seberapa besar rasa percaya kita kepada Allah hingga mampu membuat kita memutuskan “memotong tali pengait” saat tergantung terbalik? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Allah hingga kita mau menyerahkan semua yang ada pada diri kita kepada-Nya?
Teman, percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Allah dalam setiap langkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan rasa percaya itu
dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya, maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.
Subscribe to:
Posts (Atom)